 |
| Dalam dan Luar. (Photo : AWS) |
R U Travelers? Pernah melihat baleho besar ketika kita melewati Tol Karang Tengah menuju Tangerang. "Visit Banten" dengan gambar Rano Karno Gubernur Banten. Lalu dalam deret tempat menarik, Suku Baduy satu di antaranya. Tidak itu saja, karena turut berjuang agar Negara melindungi dan mengakui wilayah kelola masyarakat adat, Suku Baduy selalu muncul menjadi contoh. Lalu kita pun bertanya "kapan kita traveling ke Suku Baduy."
Baru susun rencana. "Bos" di kantor cerita baru pulang dari Baduy. Kita tanya, "sampe Baduy dalam?" Iya, kalian harus ke sana. Duh, masa Bule saja sudah ke sana, kita belum pernah. Satu bulan kemudian, belasan kolega di kantor susun trip ke Baduy dan pulang penuh dengan cerita seru. "Pak, kita tidak bisa mandi dengan sabun dan pasta gigi," kata mereka. "Semua harus dijaga keasrian dan jangan dikotori dengan produk modernitas."
 |
| Persiapan Ladang dan Kincir Angin-Baduy Luar (Photo : AWS) |
Perlu rencana dadakan kalau tidak, perjalanan ke Suku Baduy tidak pernah terjadi. Kita minta kontak, yang dapat menjadi penunjuk jalan ke Baduy Dalam. Dapatlah Pak Herman. Sebagian besar, keluarga Pak Herman masih di Baduy Dalam tetapi beliau memilih untuk berdomisili di Baduy Luar. Ceritanya panjang, dan tidak berani membuat kesimpulan meski sepanjang perjalanan Pak Herman cerita dan sejumlah pertanyaan diajukan untuk klarifikasi. Tapi tetap takut salah.
 |
| Perkampungan Suku Baduy Luar. Di Photo dari atas Bukit. (Photo : AWS) |
Bapak dan Ibu Mertua ingin ikut jalan ke Suku Baduy. Perlu susun rencana ulang, terutama memilih jalur yang lebih bersahabat. Pak Herman bilang,"sebaiknya kita lewat jalur lain yang tidak terlalu ekstrim tetapi kita perlu naik mobil lagi dari Terminal Ciboleger." Tidak apalah, terpenting aman. Maklum, Ibu Mertua umurnya mendekati 70 tahun tetapi semangat jalan-jalan-nya masih tinggi. Bahkan, kalah anak-anak muda. Awalnya mau di tinggal di Suku Baduy Luar tetapi ubah keputusan. Mau liat seperti apa di dalam.
 |
| Serba Tradisional. (Photo : AWS) |
Bila Sabtu dan Minggu, Travelers yang berkunjung ke Suku Baduy dalam cukup banyak. menjadi Pedapatan tersendiri bagi jasa pemandu lokal yang biasanya berasal dari Suku Baduy Dalam dan Luar. Tidak ada tarif khusus, meski Travelers kasih sepantasnya saja. Atau Travelers dapat membeli produk-produk lokal seperti kain tenun, madu, pisang, durian kalau musim. Sebaiknya beli makanan dari luar meski ada beberapa orang yang menjual makanan ringan seperti indomie dan roti. Penjual diperbolehkan khusus hari jumat, sabtu, minggu dan terkadang senin. Penjualnya dari luar bukan Suku Baduy dalam.
Suku Baduy Dalam masih konsisten mempertahankan ajaran leluhur. Semua dilakukan dengan tenaga manusia. Buka ladang dilakukan secara bersama-sama dan bergilir. Bikin rumah baru juga dilakukan secara bersama-sama. Pu'un pemimpin tertinggi masyarakat Baduy Dalam akan memberikan nasehat tanggal bagus dan pengaturannya.
Travelers, dalam tata kelola pemerintahan masyarakat Baduy, dikenal jaro kepala administrasi setingkat kepala desa dan ada Pu'un pemimpin politik, sosial, budaya dan agama tertinggi. Itu sebabnya, Pu'un memiliki rumah sendiri dan tempat mandi sendiri. Kita-pun tidak bisa masuk ke pekarangan tanpa seizin Pu'un. Travelers, tolong jangan coba-coba masuk. Hormati budaya lokal meski keinginan selfie tak terbendung.
 |
| Perempuan Baduy. Mengindar bila Berhadapan dengan Orang Luar (Photo : AWS) |
Pernakah Travelers bertanya, ada tidak satu komunitas yang bertahan dari gempuran modernitas. Jawab-nya ada dan tidak perlu jauh-jauh. Datanglah ke Suku Baduy Dalam. Masyarakat hidup dengan alam. Hanya ada dua warna baju, putih dan hitam. Potongan dibuat sangat sederhana tetapi fungsional. Air dijaga kesuciannya dengan cara tidak boleh tercemar limbah deterjen. Biarkan alam memulihkan diri secara alami.
Pengelolaan ladang dilakukan secara bijaksana. Namun demikian, masyarakat baduy dalam juga menghadapi tantangan, terutama tidak seimbangnya pertambahan penduduk dengan luas lahan. Pemerintah dapat membantu dengan memberikan pengakuan hutan lebih luas kepada Suku Baduy Dalam. Toh, mereka akan jaga fungsi lindung hutan tersebut.
 |
| Berenang di Sungai Jernih (Photo : AWS) |
Tips
- Ada dua cara ke Suku Baduy Dalam. Kalau Travelers mempergunakan angkutan umum. Travelers naik kereta dari Stasiun Kereta Tanah Abang ke Rangkasbitung. Dari Stasiun Rangkasbitung, tanya angkutan umum ke Terminal Ciboleger. Tiba di Ciboleger, makan siang dan mencari pemandu wisata lokal. Beli keperluan yang dibutuhkan untuk makan malam dan pagi di Desa Baduy Dalam.
- Kalau Travelers bawa mobil sendiri, gunakan google map, cukup andal, bahkan memberikan jalan alternatif kalau jalan utama macet.
- Sebisa mungkin jangan membeli indomie atau roti biskuit dengan bungkus plastik. Takut-nya mencemari Desa Baduy Dalam. Fenomena baru sampah plastik di Suku Baduy dalam. Bahkan Suku Baduy Dalam suka sekali dengan Indomie dan makanan kaleng. Beli-lah beras, telor, pisang atau ubi yang bisa diolah dan bungkusnya dapat diurai secara alami.
- Meleburlah dengan masyarakat Baduy Dalam pada malam hari. Travelers akan tidur di rumah-rumah masyarakat. Sekali lagi, mereka tidak minta bayaran tetapi berilah sewajarnya.
- Jangan ambil photo di Suku Baduy Dalam meski bisa mempergunakan handphone.
Labels: adventure, Baduy tribe, Banten, Traveling Baduy, traveling Indonesia