Jalan-Jalan Melihat Geliat Ekonomi Kreatif Masyarakat Togean

Kepiting Kenari Foto: Abdul Wahib Situmorang 


R U Travelers? Ke Taman Nasional Laut Togean tak lengkap kalau Travelers tidak melihat geliat ekonomi kreatif masyarakat di sana. Kami memiliki kesempatan berkunjung ke budidaya kepiting kenari.

Ukuran kepiting kenari lebih besar dari kepiting biasanya. Saya pernah makan kepiting ini di Ternate 9 tahun yang lalu. Itu-pun karena ketidaktahuan. Saya kira seperti kepiting biasanya.

Sewaktu disajikan. Wah kok besar sekali. Enak. Dagingnya banyak sekali. Perlu bersusah payah untuk menghabiskannya. Travelers, saya perlu mengingatkan. Bagi yang memiliki kolesterol, jangan coba-coba makan kepiting ini. Bisa langsung naik kolesterol. 


Sadar kedua ketika disajikan bill-nya. Walah, kok mahal sekali. 500 ribu-an waktu itu. Si pelayan pun menjelaskan, kalua kepiting yang disajikan adalah kepiting kenari. Harganya lebih mahal.

Karena permintaan tinggi dan harga yang mahal, maka kepiting ini banyak di buru dialamnya. Padahal kepiting ini salah satu biota yang dilindungi di habitatnya.

Cukup jeli peluang masyarakat di Desa Kulingkinari membuat budidaya kepiting kenari. Geliat masyarakat melakukan budidaya perlu didukung dan dibantu. Penyediaan pembibitan Kepiting oleh Pemerintah dinanti oleh masyarakat.


Ini untuk menekan masyarakat mengambil dari alam, lalu ditangkar untuk pengemukan. Karena kalua terus diambil maka populasinya di alam akan menurun. Lama-lama sulit ditemukan.

Kalau mau melihat Ikan Napoleon, Travelers bisa berkunjung ke budidaya Ikan Napoleon di Togean. Permintaan jenis ikan ini sangat tinggi padahal Ikan Napoleon jenis ikan yang dilindungi.

Banyak yang menjualnya diam-diam. Sewaktu kami ke Wakatobi. Kami kaget mendengar satu bapak memesan ikan Napoleon. Saya tanya, kenapa pesan ikan itu. Kan ikan itu dilindungi. Enak dan bisa meningkatkan vitalitas, katanya.


Dua alasan itu yang selalu dikemukakan kenapa ikan ini banyak diburu. Sewaktu kami menyelam makin sulit melihat kawanan ikan napoleon. Kalau-pun ada hanya satu dua.

Hal yang sama terjadi dengan Ikan kerapu, ikan karang. Dulu banyak diburu dialamnya dengan pake bom atau bius. Membuat habitatnya rusak. Kerusakan bisa ditekan ketika budidaya ikan kerapau mulai banyak.

Sekali lagi, Pemerintah bisa membantu usaha masyarakat yang melakukan budidaya ikan napoleon dengan menyediakan bibit. Harganya mesti murah, pakan terjangkau dan bimbingan teknis diberikan.


Masyarakat bisa mempergunakan kolong rumah untuk budidaya ikan kerapu. Cukup dibendung atau dipasang jari yang cukup luas. Bila berkesinambungan, bisa dibuat 5 bahkan 12 tempat. Sehingga setiap Bulan atau setiap tiga Bulan bisa menjual ikan hasil budidaya.

Harga di pasar cukup menggiurkan dan tren permintaan terus meningkat. Budidaya bisa menekan perburuan ikan napoleon di alamnya. Dan pada satu titik, populasinya justru meningkat.

Tips Untuk Travelers

Pertama, bila jalan-jalan sambil menimba ilmu udah pas sekali Travelers. Kita bisa belajar ekosistem dan geliat ekonomi kreatif masyarakat.

Kedua, bila ke Togean Travelers bisa singgah ke Desa xx untuk melihat kerajinan tangan yang dibuat oleh masyarakat. Sampah diolah untuk dijadikan sejumlah cendramata. Beli satu dua agar masyarakat termotivasi. Kerajinannya menarik. Jadi nggak rugi deh.   


Labels: , , , , ,