Hidup Berdampingan: Sikerei dan Alam Mentawai


R U Travelers? Alam Mentawai bagaikan laboratorium dan apotik bagi masyarakat Mentawai. Sejak ratusan bahkan ribuan tahun, pengetahuan pengobatan berkembang di masyarakat mentawai. Pengetahuan di turunkan atau dipilih oleh alam roh-roh kepada satu Sikerei atau tabib atau dukun di kenal sekarang.

Karena ketergantungan yang tinggi dengan alam maka keberadaan Sikerei akan lenyap apabila alam mentawai habis di-eksploitasi atau berganti dengan sistem monokultur. Keragaman flora dan fauna alam mentawai menyediakan kekayaan bahan baku obat yang dipergunakan untuk melakukan pengobatan.



Melalui proses cukup panjang pengetahuan pengobatan menjadi terlembaga. Jenis dan gejala penyakit yang sering dialami oleh masyarakat Mentawai telah terkodifikasi. Tidak pernah dibukukan tetapi menjadi pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing Sikerei.


Ketika melakukan diagnosa, selain melihat tanda-tanda fisik Sikerei juga melalukan ritual memanggil roh untuk konfirmasi dugaan penyakit yang di-diagnosa sebelumnya. Roh akan masuk ke orang yang tengah sakit, Sikerei berkomunikasi dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh Sikerei sendiri. 

Kalau Dokter memiliki buku atau mentor maka Sikerei memiliki roh-roh para leluhur yang memiliki pengetahuan dan kemampuan pengobatan dan dapat memberikan pentunjuk cara menyembuhkan orang yang tengah sakit. Keterlindungan alam menjadi penting karena Sikerei akan mengambil bahan-bahan obatan dari alam. 

Tato menjadi penanda Sikerei. Travelers tidak akan sulit membedakan Sikerei dengan masyarakat mentawai lainnya. Sikerei memiliki tato yang cukup banyak di sekujur tubuhnya. Sebagian besar tato bergambar flora terutama pohon rotan yang memiliki banyak fungsi di masyarakat mentawai.


Sikerei juga mempergunakan berbagai macam aksesoris penuh dengan warna-warni. Kalau dulu aksesoris berasal dari bunga atau akar berwarna-warni kalau sekarang diambil dari bungkus makanan seperti wafer bang-bang. Cukup kreatif dan adaftif dengan perubahan.

Kami memiliki kesempatan menjelajah ke Pulau Siberut September 2016. Setelah diayun-ayun dalan kapal cepat, kami perlu meneruskan perjalanan melalui sungai ke Desa Modobak dan Desa Matotonan. Jalan darat masih belum bisa ditempu karena tengah dibangun. Dua atau tiga tahun lagi kendaraan motor dan mobil bisa menembus ke dua desa yang berada ditengah Pulau Siberut.

Keberadaan Sikerei telah jauh berkurang. Fungsi pengobatan berlahan-lahan di ganti dengan dokter. Kelembagaan pengobatan tradisional mulai diganti dengan Puskesmas dan rumah sakit. Berkurangnya Sikerei juga dipengaruhi oleh menurunnya kualitas lingkungan hidup.


Lokasi Desa Modobak dan Matotonan berada di lingkar Taman Nasional Siberut. Memang masih terjadi tumpang tindih hak tenurial antara Taman Nasional dan wilayah kelola masyarakat adat. Namun masing-masing memiliki kesamaan menjaga keberlanjutan alam mentawai. Tanpa alam, tiada Sikerei dan tiada Sikerei, hilanglah keragaman budaya di Mentawai.

Ketika kami hendak pulang ke Kota Muara Siberut, Kota Kecamatan, hujan dengan intensistaa tinggi terjadi. Kami khawatir tidak bisa pulang pada hari itu. Tapi kami diberi penjelasan kalau hujan dengan intesitas tinggi terjadi itu penanda Sikerei dari Desa Matotonan yang berada di hulu Sungai ingin ke Kota. Dengan debit air sungai yang besar seperti perahu diberi mesin 300 PK. Kamipun mengalaminya. Waktu tempu bisa hemat satu jam lebih.

Posisi Kepulauan Mentawai yang berada di tengah Samudara Hindia cukup menguntungkan untuk olah raga berselancar. Bentuk ombaknya sangat pas dan berbentuk tunnel. Tidak banyak tempat di dunia yang memiliki bentuk ombak "tunnel." Karena itu, para peselancar dunia banyak yang berlibur ke Mentawai bermain-main ombak di sana. 


Para penjelajah bisa menikmati atraksi ikan lumba-lumba di pagi hari sambil melihat para nelayan yang tengah mengambil ikan cakalang atau tongkol. Jangan lupa cicipi berbagai makanan yang terbuat dari bahan baku sagu.

Bagi penggemar tato, Travelers bisa membuat Tato dengan motif Mentawai. Kajian awal menunjukan praktik tato Mentawai termasuk satu diantara yang paling lama dunia. Praktik ini telah ada sejakal 500 SM bahkan lebih tua dari praktik Tato yang berkembang di Mesir. Bagi masyarakat Mentawai tato memiliki makna status sosial, fungsi dan keindahan. 

Jarum sebagai alat tato mempergunakan tulang binatang dan tinta yang dipergunakan adalah bahan baku alami. Katanya, setelah di tato orang yang ditato akan terkenan demam satu minggu. Jangan khawatir tidak ada yang berbahaya. 


Foto-foto diambil oleh Verania Andria ketika traveling ke Mentawai bulan September 2016 . 

Labels: , , ,