Orang Bajo: Guru Kami Adalah Laut


R U Travelers? Wakatobi tidak hanya memiliki keragaman ekosistem dan jenis tetapi juga memiliki keragaman budaya. Satu di-antaranya adalah masyarakat suku bajo. "Orang Bajo" biasa dipanggi, hidup di atas laut. Sebelum menetap di satu tempat, Orang Bajo hidup sebagai nomaden. Mereka pindah dari satu tempat ke tempat lain. 

Imran "Orang Bajo" mengatakan Guru Orang Bajo adalah laut. Ketika baru lahir, para tetua melemparkan Si-bayi ke dalam laut. Sebagian besar naik ke-permukaan. Ini penanda "Sang Maha Kuasa" menghendaki Si-Bayi hidup di dunia. Ketika Si-Bayi tidak muncul, bukan dibiarkan. Para tetua turun ke laut untuk mengambilnya.

Ketika melahirkan, para tetua bisa melihat siapa yang menemani Si-Bayi keluar dari rahim sang Ibu. Orang tua Imran bercerita ke Imran kalau dirinya ditemani oleh oktopus. Maka menurut kepercayaan Orang Bajo, Saudara Imran adalah Oktopus. Ia tidak boleh membunuh atau mengkonsumsi. Di lautan, Imran akan mendapatkan perlindungan dari Oktopus. 


Puluhan kapal-kapal kecil terlihat di pingir-pingir laut yang berkarang. Sebagai satu atraksi "Orang Bajo" menangkap ikan di laut. Bila Travelers menaiki kapal ke Pulau Hoga maka Travelers akan melalui Kampung Bajo paling besar di Pulau Wangi-Wangi. Kampung Bajo Mola, namanya. 

Sekitar abad ke 18 Orang Bajo berlayar dari Sabah Malaysia turun ke sekitar Pulau Selayar di Sulawesi Selatan. Dari Selayar mereka berlayar ke Pulau Kaledupa dan kemudian ke Pulau Wangi-Wangi. Kata Imran, Orang Bajo mulai menetap tahun 1950-an di Kampung Mola. 

Saya pernah berlayar ke Selayar, napak tilas jejak leluhur kami dengan kapal kayu tanpa mesin. Kami mengandalkan layar, angin dan gelombang. Perjalanan panjang tapi penuh makna. Saya belajar hidup di laut dan para orang tua kami mengajari kami berlayar. 


Kami berlayar mempergunakan petunjuk bintang pada malam hari dan matahari pada siang hari. Arah angin dan arus pelajaran yang kami harus kuasai. Satu tanda satu tempat berarus dengan melihat buih putih di atas ombak. Bila buih putih banyak terlihat maka tempat tersebut memiliki arus bawah laut yang cukup kuat. 

Ketika kami memasuki kapal, kami bisa mendengar suara dari kapal. Suara tersebut memberi petunjuk arah kapal. Bahan kapal-nya mesti kayu bukan fiber seperti sekarang ini. Suara tersebut kerap memberi peringatan bila memasuki perairan dangkal atau dalam. 

Ketika cuaca jelek dan tidak bisa mempergunakan navigasi alam. Orang Bajo akan mempergunakan mangkok berisi air dan memasukan silet ke dalam air. Ujung akan memberi arah "utara" sebagai petunjuk. Kami tidak mempergunakan navigasi modern dan kapal mesin tapi tiba di Selayar dan pulang ke Wangi-Wangi dengan selamat. 


Orang Bajo sangat cekatan membuat "kacamata renang" yang terbuat dari kayu. Kacamata renang bukan untuk berenang tetapi untuk mengambil ikan di laut. Unik bukan. Coba dan pas sekali di muka. Hasilnya tidak kalah dengan kacamata renang yang dijual di toko.

Dengan kacamata renang produksi lokal, Orang Bajo menyelam di bawah laut. Mereka bisa berada di bawah laut lebih dari 5 menit. Tinggal diberi alat selam, Orang Bajo bisa menyelam dibawah laut layaknya penyelam operasional. Yakin Orang Bajo akan menjadi pembimbing selam nomor satu.

Imran bercerita jenis arus bawah laut dan bagaimana menghindari kecelakaan ketika melakukan penyelaman. Arus bawah tidak bisa dilawan meski telah mempergunakan "hook." Penyelam menghindar jauh dari dinding karang, maka arus makin lemah. 

           
Tips Bagi Travelers

Pertama, Kampung Bajo Mola berada di tengah Kota Wancik, mudah ditemui. Beberapa hotel dan homestay tersedia di sana.

Kedua, Travelers bisa bersama "Orang Bajo" belajar menangkap ikan secara tradisional. 

Ketiga, Kampung Bajo Mola memiliki "gedung pertemuan" dan sekaligus tempat masyarakat bajo internasional. 

keempat, foto-foto diatas diambil ketika melakukan kunjungan Wakatobi tanggal 2-5 Oktober 2016.  



Labels: , ,