R U Travelers? Dan gugusan pulau-pulau karang terbentang di hadapan kami. Kapal kami berjalan di antara dua pulau karang dengan kecepatan rendah. Laut begitu jernih sehingga dasar terlihat. Karang putih diselimuti pohon-pohon kecil berwarna hijau menghiasi Paenemo.
Kami memang ingin ke Paenemo seperti ratusan ribu pengunjung lain yang telah berkunjung ke Raja Ampat. Dari atas bukit karang yang cukup tinggi, kita bisa menikmati pemandangan pulau-pulau karang dengan laut berwarna hijau serta hamparan laut Raja Ampat.
Pengunjung perlu menapaki ratusan anak tangga yang terbuat dari kayu. Kiri kanan ditutupi oleh vegatasi berupa pohon-pohon berdiameter sedang. Suara burung menemani kita menaiki satu persatu anak tangga. Sungguh indah dan menyegarkan.
Tak heran kalau banyak orang berkunjung dan ingin berkunjung ke Raja Ampat setiap tahunnya. Paket Live on Board (LOB) Raja Ampat laris di beli para penikmat bawah laut dan indahnya bentang alam Raja Ampat. Seperti tak mau menyia-nyiakan satu detik-pun ketika berada di Raja Ampat.
Kapal-kapal tersebut berlayar dari satu tempat menarik ke tempat menarik lainnya. Tapi bagi yang lebih memilih tinggal di daratan, resort dan puluhan home stay yang dikelola oleh masyarakat bisa menjadi opsi lainnya. Para pengunjung-pun akan disuguhkan ketenangan alam sekitarnya.
Banyak pengunjung memilih tinggal di Sorong dan pulang pergi ke beberapa lokasi menarik di Raja Ampat. Para pengunjung berkunjung ke Paenemo untuk menikmati indahnya gugusan pulau karang, berfoto dan update profile ketika mendapatkan signal internet. Itu bagian ritual masyarakat modern.
Ke Raja Ampat kalau tidak menyelam atau snorkeling rasanya masih kurang legkap. Melihat Manta menjadi salah satu tujuan utama para penyelam yang berkunjung ke Raja Ampat. Manta fauna kharismatik Raja Ampat. Kitapun bisa mejumpainya di Manta Sand, nama dive spot-nya.
Kapal kami bersandar di Pulau Arborek untuk makan siang. Beberapa peserta ingin bersonekeling dan lainnya ingin beristirahat setelah berkunjung dan berdiskusi dengan pelaku usaha konservasi perairan laut dan masyarakat. Dari Pulau Aborek ke Manta Sand jaraknya tidak terlalu jauh.
Kami-pun menuju ke Manta Sand. Persentase bisa melihat Manta 50:50 karena belum musimnya. Dan betul setelah berjalan menelusuri hamparan sangat luas karang berbentuk jamur, sea pan, penyu dan putihnya pasir, Manta tidak terlihat oleh kami.
Raja Ampat memang surga alam liar. Para pengujung dan penjelajah dipuaskan dengan puluhan Paus Pilot Sirip Pendek melakukan migrasi di perairan Raja Ampat. Ini sungguh pengalaman tak terlupakan melihat kawanan Ikan Paus timbul dan menyemburkan udara dan kemudian meyelam ke dalam laut.
Dari dekat, kami melihat sirip besarnya dan bagian ekor muncul ke permukaan laut. Ini momen luar biasa. Suara di dalam kapal saling bersahutan, teriak senang terdengar jelas. Tak ada satupun yang tidak terkagumkan oleh puluhan paus dan ratusan lumba-lumba.
Lumba-lumba menari-nari di atas permukaan laut, berkejaran satu dengan yang lain. Dan satu, dua , tiga lumba-lumba mendekati kapal seolah mengolok-ngolok untuk bilang "kejar kami" dan kamilah yang paling cepat. Loncatan ke udara mengajak kami untuk riang dan bersahabat dengan alam.
Tak lengkap bila berkunjung atau menjelajah Raja Ampat tidak singgah di daratannya. Siapa yang tidak ingin melihat Burung Cendrawasih, cantik bentuknya dan indah suaranya. Di Raja Ampat, kita masih bisa menjumpai Burung Cendrawasih Kepala Botak, endemik Raja Ampat.
Keluarlah di waktu shubuh dan berjalanlah di sepanjang pulau, travelers akan dimanjakan dengan suara merdu berbagai burung. Carilah tempat duduk dan pejamkanlah mata, energi positif alam masuk ke pikiran dan tubuh. Ketenangan dan harmoni hidup menyatu di dalam sanubari.
Raja Ampat menjadi pilihan untuk mengasingkan diri dari hiruk pikuk kehidupan masyarakat modern dan kota. Hidup penuh dengan tekanan, kompetisi, polusi, suara bising kendaraan dan makanan tidak sehat.
Riang gembira anak-anak Raja Ampat bercengkrama dengan alam sungguh tiada duanya. Disini jelas sekali alam dan manusia hidup berdampingan, saling membutuhkan dan mengasihi. Jangan biarkan Raja Ampat menjadi industri pariwisata yang tak terkendali dan melampaui daya dukung alamnya.
Lepaskan mindset teresterial berupa jalan raya dan lapangan terbang besar sebagai parameter kemajuan suatu daerah. Raja Ampat adalah kabupaten kepulauan, maka yang dibutuhkan adalah sarana dan prasarana berbasis perairan laut.
Pengelolaan limbah dan sanitasi dari resort, home stay dan pemukiman menjadi pekerjaan rumah Pemerintah dan semua para pemangku kepentingan. Kita yakin ini bisa diatasi dan kita tahu konservasi sangat dekat dengan praktik dan hati masyarakat adat raja ampat.
Salam jempol dari anak-anak Raja Ampat ke seluruh pelosok tanah air dan dunia dari Kapal Kalabia-belajar sambil berlayar. Datanglah ke Raja Ampat dan belajar bersama alam kami. Nikmatilah ciptaan sang maha kuasa. Dan ceritakanlah kepada para sahabat agar datang kembali mengunjungi kami.
Perjalanan ini bagian dari usaha kolektif Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kelauatan dan Perikanan, Pemerintah Daerah Raja Ampat, Conservation International Indonesia dan UNDP Indonesia memperkuat konsep Bentang Laut Kepala Burung Papua.
Doakan berhasil...
Labels: Arborek, Manta Sand, Paenemo, Raja Ampat