Tarian Burung "Surga" Cendrawasih Lembah Klasow (Bagian Akhir)


Beragam Burung Kakatua dan Nuri mulai memperdengarkan suaranya. Cuitannya sangat khas. 

Pak Nico mengatakan, "itu suara kakatua dan nuri. Kalau tengah ramai, kuping kita bisa sakit mendengarkannya". Gelombang suara yang dibuat menusuk gendang telinga. 

Beragam suara merdu burung banyak terdengar. Siul panjang dan pendek menemani perjalanan kami. Jalan becek, lumpur dan basah karena hujan serta keringat tidak menjadi halangan. 

Memang keragaman burung sangat tinggi sekali di rimba ini. 
Sepanjang jalan kami-pun melontarkan pertanyaan, sampai kapan kita mendengarkan suara-suara burung ini. Kami hanya khawatir kebijakan ekspansif perkebunan kelapa sawit dan logging bisa mengancam habitat burung.


Setelah berjalan cukup lama, hamparan luas berada di hadapan kami. Berbagai bunga tumbuh di sepanjang jalan membelah kampung Suku Moi. Rumah-rumah terbuat dari kayu. 

"Kita sudah tiba di kampung," kata Bung Nico.

Hamparan singkong, ubi rambat, berbagai sayuran dan tanaman cabe memenuhi halaman perkarangan milik masyarakat. 

Suasana senja dan kabut mulai turun. Kampung-pun menjadi begitu indah. Kami belum pernah berada di perkampungan pedalaman hutan papua.

Tiba juga di shelter. Keringat bercampur air hujan membasahi baju-baju kami. Tak lama Mamah dan Pak Ce pengelola shelter datang. 

Kampung terlihat sepi karena sebagian penduduk tengah mencari ikan di laut. Jaraknya lumayan. Ikan diambil dengan tombak dan dibawa pulang dengan berjalan kaki.

Malam-pun berlalu dengan cepat. Jam 4.30 pagi kami terbangun. Bung Nico dan Pak Jansen memanggil nama kami. Jam 5 pagi kami harus jalan agar tiba jam 7 pagi. 

Duo Mamah sudah membawa air panas dan pisang goreng. Setelah persiapan dan sarapan cepat, kami-pun mulai berjalan memasuki lembah.

Dalam gelap cahaya senter kami menerangi jalan setapak. Awalnya jalan cukup datar namun berlahan menanjak. Suara kokok ayam jantan mulai sahut menyahut. 


Suara kodok yang sangat gagah tidak terdengar lagi. Kunang-kunang yang menjadi penerang rerumputan tidak terlihat lagi. 

Suara berbagai burung terdengar sahut menyahut. Suara merdu, lengkingan panjang dan berat mengisi rimba raya. Terkadang terdengar suara rusa yang terkejut ketika kami melintasi jalan. Suaranya cukup berat dan besar. 

Tak jauh dari pohon habitat Burung Surga, suaranya mulai terdengar jelas. 

"Dengar suara-suara itu. Itulah suara Burung Cendrawasih," kata Bung Nico. Berhenti dulu di pondokan ini. Minum dan makan dahulu agar cukup energi untuk mengamati sambil mengambil foto.


Bung Nico menunjuk ke satu pohon. Dengan berbisik, "lihat di atas pohon itu". Burung Cendrawasih tengah bertengger di atas dahan pohon. Jumlahnya lebih dari empat. Suaranya terdengar sangat keras. Ini sungguh luar biasa. 

Gambar diambil dan dicek berulang. Lebih dari satu jam kita menonton tarian burung surga. Ingin lebih lama namun di atas jam 9 pagi burung cendrawasih tidak lagi bermain. 

Mereka pergi dan masih belum diketahui daerah jelajahnya secara pasti. Menurut kepercayaan masyarakat lokal, tak satu-pun yang mengetahui secara persis dimana mereka berada diwaktu sore dan malam hari.  


Masyarakat menetapkan hutan adatnya menjadi usaha eko wisata. "Kami tidak ingin hutan kami berubah menjadi perkebunan kelapa sawit," kata masyarakat. 

Sumber pendapatan lain masih banyak dan beragam yang lebih ramah terhadap lingkungan hidup. 

Lalu mengapa kita tidak dukung? Dukunglah dengan berkunjung ke Lembah Klasow. 






Labels: ,