Tarian Burung "Surga" Cendrawasih Lembah Klasow (Bagian Pertama)


Akhirnya kami berhasil menghubungi Charles melalui Whatsapp. Kami mendapatkan nomor handphone-nya melalui satu blog yang dan satu diantaranya tulisan pengalaman melihat Burung Cendrawasih di habitatnya. 

Tak terasa lengkap bila tidak menelusuri rimba raya Papua Barat. Apalagi kalau bukan melihat Burung Cendrawasih di habitatnya. Bukan di Taman Burung loh seperti Taman Burung di Taman Safari Cisarua-Bogor. 

Keinginan tersebut sudah lama kami pendam. 
Kalau ingin melihat Burung Cendrawasih, pergilah ke Lembah Klasow. "Kerapatan burung paling tinggi di hutan belantara Sorong", kata Charles melalui Whatsapp kepada kami. "Teman saya Nico akan membantu mempersiapkan perjalanan, silahkan hubungi Nico", kata Charles.


Sewaktu bertemu dengan Bung Nico, Ia mengira kami telah berumur atau "tua" dan bule. Sudah identik peminat pengamatan burung kebanyakan lanjut usia dan dari luar Indonesia. 

Setelah berdiskusi kami memutuskan untuk melakukan perjalanan selama dua hari. Bung Nico menjelaskan rincian waktu perjalanan: 

Dari Sorong butuh 1 jam s.d 1 jam 30 menit ke titik awal perjalanan.

Dari titik awal ke Kampung Suku Moi butuh waktu 2  s.d 2 1/2 jam tergantung kecepatan kita berjalan. 

Dari Kampung ke lokasi pengamatan Burung Surga butuh waktu 2 jam lebih. 

Kalau kita berangkat jam 2 pagi dari Sorong, khawatir tidak terburu. Belum lagi harus menempuh rimba, hujan dan jalan berlumpur. Terbayang kalau malam. 

Kami putuskan untuk berangkat hari ini juga. Rencana menginap di shelter milik masyarakat tapi bahan makanan perlu dibeli dari Sorong. Bung Nico mulai merinci makanan yang perlu dibeli dari Sorong: Beras 2 kg, minyak sayur dan lauk pauk seadanya. 

Kalau sayur banyak di Kampung. Mamah-mamah pengelola kampung ekowisata pengamatan burung akan membantu memasakan-nya. 

Kami-pun tiba jam 4 sore di pintu rimba dan bersiap jalan kaki. Hutan rimba terpampang di hadapan kami. Setelah berfoto bersama, kami-pun memulai perjalanan. 

Belum jauh kaki melangkah, suara burung mulai terdengar. Awalnya hanya satu namun makin jauh beraneka ragam suara burung mulai kami dengar. Selamat datang di lembah burung. 

Lima anak sungai kami lewati tanpa jembatan. Kami harus lepas sepatu agar tidak basah. 

Bung Nico bilang, "tenteng saja sepatunya karena ada 4 sungai kecil lagi kita harus seberangi. Hati-hati jalannya agar tidak tertusuk kayu-kayu atau batu tajam".

Dari atas rimbunnya rimba kami mendengar suara sangat kuat. Suaranya seperti Siamang atau Kera Besar. 

Bung Nico, apa ada Kera di rimba ini? "Tidak ada," kata Bung Nico. Itu suara apa? "Itu suara burung. Suaranya memang berat dan kuat" kata Pak Nico. 

Kami juga mendengar suara kepak burung yang penuh tenaga. Bagaikan Burung Rajawali yang tengah mengepakan sayapnya. 

Kalau kami lihat burungnya tidak besar tapi memiliki kepaknya cuku lebar. Burung ini memang mengepakkan sayapnya dengan kuat. 


Labels: , ,